Segalanya tentang Inspirasi, Kesehatan & Lifestyle


Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2020

Menikmati Mitos Kesegaran dan Khasiat Air Petirtaan Candi Jolotundo di Mojokerto

Menikmati Mitos Kesegaran dan Khasiat Air Petirtaan Candi Jolotundo di Mojokerto

Petirtaan Candi Jolotundo (livyah08)

Di musim pandemi virus corona seperti saat ini, wisata alam menjadi pilihan utama menghilangkan penat. Selain sirkulasi udaranya bagus, wisata alam juga dapat menyehatkan tubuh pasalnya kadar oksigen yang berlimpah dibanding wisata lain seperti wisata belanja alias ngemall.

Salah satunya yakni menikmati segar dan jernihnya air di Candi Jolotundo yang masih ikut wilayah Mojokerto. Di pilihnya lokasi ini, pasalnya tidak jauh dari lokasi admin ini tinggal.

Perjalanan menuju kawasan Candi Jolotundo tak begitu sulit. Dari kawasan Ngoro Industrial Park, perjalanan menuju candi yang dimaksud sudah sangat dekat. Tidak jauh dari kawasan industri itu, ada jalan beraspal yang cukup lebar. Di pinggirnya ada plakat bertuliskan PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Seloliman 9 km.

Mumpung masih pagi, menuju lokasi itu hanya mengikuti petunjuk yang ada. Pasalnya, Petirtaan Jolotundo yang menjadi tujuan juga berada di Desa Seloliman yakni masih satu kawasan atau jalur yang sama.

Kira-kira naik lagi sejauh 2 km, dari lokasi PPLH itu. Penjelajahan menuju tempat tujuan sudah semakin dekat. Selama perjalanan tersaji panorama alam yang menarik. Persawahan warga, birunya Gunung Penanggungan, air gemericik di selokan kawasan pegunungan dapat teramati jelas saat beristirahat sejenak di pinggir jalan.

Tak terasa akhirnya sampai juga di kawasan Desa Seloliman tempat PPLH berada. Perjalanan belum usai, karena tujuan yang dimaksud masih belum berakhir yakni ke situs yang konon dulu merupakan warisan Prabu Udayana saat beliau masih berusia belasan tahun.

Sampailah penjelajahan ke tempat tujuan disambut dengan petugas tiket. Usai parkir kendaraan, langsung menuju lokasi yang petirtaan itu.

Merilis merdeka[dot]com, bahwa Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana dari Bali diperuntukkan bagi Raja Airlangga setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan. Secara geografis Candi Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) tepatnya di Bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan.

Lokasinya, berada di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto Jatim. Petirtaan Jolotundo, memiliki sumber mata air kualitasnya terbaik setelah air zam-zam atau nomor dua dunia. Tak pelak. Masyarakat Mojokerto maupun luar Mojokerto, banyak datang untuk melakukan ritual dan mengambil air pasalnya dipercaya memiliki banyak khasiat.

Candi Jolotundo terdapat dua sendang (tempat mandi) berdinding batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2x2 meter menghadap ke barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur. Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan di bawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6x8 meter, dan banyak terdapat ikan berukuran besar.

Mitos yang berkembang di kawasan tersebut, mata air keluar dari Candi Jolotundo ini dipercaya masyarakat punya banyak khasiat, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa membuat awet muda. Banyak masyarakat datang untuk mengambil air dari sumber tersebut untuk berbagai keperluan.

Bahkan, pada malam satu Suro atau menjelang tanggal 1 bulan Jawa Suro, Candi Jolotundo banyak di datangi masyarakat, terutama warga Bali. Mereka datang untuk melaksanakan ritual dan mensucikan diri di Petirtaan Jolotundo.

Sementara itu, dari informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, bahwa bentuk Petirtaan Jolotundo yang berbentuk persegi panjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah-tengah ternyata memiliki simbolis sebagai gambaran Mahameru (Gunung Semeru).

Dalam konsepsi Hindu, seperti dikutip dari kompasiana[dot]com, bahwa Mahameru dianggap sebagai gunung suci tempat bersemayam para dewa. Konsepsi ini sebenarnya telah dikenal semenjak jaman prasejarah (masa Megalitikum) yang menganggap gunung sebagai unsur tertinggi tempat bersemayam roh nenek moyang.

Kepercayaan tentang khasiat air Petirtaan Jolotundo biasanya diperoleh dari informasi masyarakat dan kabar turun-temurun dari nenek moyang. Kabarnya, ada anggapan bahwa air dari sumber itu diyakini mampu menyembuhkan penyakit, membuat lebih enak rasa minuman yang dibuat jika memakai air dari sumber itu, bahkan banyak yang beranggapan airnya dapat membuat awet muda.

Itulah sekilas kisah dari keberadaan Petirtaan Candi Jolotundo yang melegenda dan banyak dikunjungi warga +62 yang ingin merasakan sensasi airnya, baik mandi maupun meminumnya untuk dikonsumsi sebagai air minum atau obat dari penyakit. Intinya, bila airnya bersih jernih, dampak atau efek kesehatannya dipastikan akan baik pula. Terlepas dari kisah dan mitos yang menyelimuti keberadaan Petirtaan Candi Jolotundo. Wallahu ‘alam bishawab. ***

Kamis, 03 September 2020

Jejak Sejarah Nama Pasar Blauran Surabaya

Jejak Sejarah Nama Pasar Blauran Surabaya

blauran
Bursa buku bekas di Pasar Blauran (bukuonlinestore[dot]com)

Selain dikenal sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga terkenal sebagai Kota Perdagangan. Disebut Kota Dagang karena aktifitas perdagangan yang ada di Surabaya bergerak serta mengikuti zaman. Hasil bumi yang kaya dan melimpah menjadikan metropolitan kedua di Indonesia ini sebagai sentra perdagangan di Indonesia.

Perdagangan di Surabaya sudah aktif sejak zaman kolonial Belanda. Bahkan, saat ini terus berkembang dengan lebih modern.

Menurut Sejarawan Universitas Airlangga Surabaya, Purnawan Basundoro yang dikutip dari liputan6[dot]com, mengatakan bahwa perdagangan di Surabaya sudah mulai menggeliat sejak tanam paksa. Pada abad ke-19, terdapat kebijakan tentang industrialisasi yang membuat Surabaya tumbuh dan berkembang.

Menurut Purnawan, saat itu Surabaya menjadi pelabuhan utama dari sentra perkebunan dan liberasi ekonomi meningkat.

Kemudian pembangunan fasilitas perdagangan ritel (pertokoan) dan pasar secara formal ditingkatkan pada saat pemerintah Gemeente Soeraabaia berjalan hingga 1940, Surabaya mulai diperluas ke arah selatan.

Beberapa fasilitas yang terbangun di antaranya adalah Tunjungan, Pasar Pabean, Pasar Pegirian, Pasar Genteng, Pasar Tunjungan, dan Pasar Blauran.

Berbicara tentang Pasar Blauran, pasar ini satu di antara wilayah yang menarik dengan pusat toko buku bekas terbesar di Surabaya.

Berdasarkan refrensi dari buku Soerabaia in The Olden Days, yang dikutip dari tribunnews[dot]com, bahwa nama Blauran memiliki sejarah nama dua versi.

Pertama, nama Blauran terinspirasi dari nama sebuah gunung. Jadi tak heran jika kalian menemukan nama jalan di sekitar Blauran yang menggunakan nama gunung. Seperti Jalan Kawi, Jalan Arjuno, Jalan Ijen, dan lainnya.

Kedua, nama ini berasal dari Bahasa Belanda yakni blauw yang berarti biru. Konon, katanya orang-orang yang tinggal di daerah Blauran mewarnai pagar mereka dengan warna biru.

Jadi mereka menyebutnya dengan daerah Blauw yang sekarang dikenal dengan nama Blauran.

Sementara itu, menurut Pak Hakim, pedagang buku di Pasar Blauran sejak 1994, merilis soerbeje[dot]blogspot[dot]com, menjelaskan bahwa kata Blauran berasal dari kata Blau yang artinya pagar dan ran yang berarti pasar. Jadi, Blauran adalah pagar yang mengelilingi pasar.

Penjual menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara zaman dahulu dengan zaman sekarang. Perbedaan ini ditunjukkan dengan bahwa dahulu terdapat harga keluarga maksudnya harga buku atau barang-barang yang dijual di Pasar Blauran dulu bisa ditawar, tetapi sekarang ini harga buku yang dijual sudah ada standar harga jualnya berbentuk seperti Koran.

Sekarang ini, harga-harga buku yang dijual di Pasar Blauran rata-rata harganya sama dengan yang dijual di Toko Buku Uranus.

Berdasarkan sumber dari Litbang di Kantor Pasar Blauran, Blauran berasal dari dua suku kata berbahasa Belanda, yakni blauwe (biru) dan rand (renda). Sebab, dulu sekitar 1700 di kompleks Blauran tersebut didirikan tembok panjang putih. Tembok setinggi 5 meter tersebut menjadi pembatas rumah golongan pengusaha Tionghoa yang kaya raya dengan warga pribumi.

Agar tembok tersebut manis dipandang, sehingga para pengusaha mengecatkan renda biru ditembok itu, sehingga menjadi Blauran.

Namun, ada versi lain tentang nama Blauran menurut Romo Bintarti pada tahun 1964 (seperti artikel yang dikutip oleh Sarkawi B. Husain, sebagai dosen sejarah Unair, dalam tulisannya yang berjudul Sepanjang Jalan Kenangan: Makna dan Perebutan Simbol Nama Jalan di Kota Surabaya).

Asal mula nama kampong itu adalah kata Balur atau Mbalur yang berarti mengeringkan ikan. Sebagai tempat mengeringkan ikan, warga lebih enak menyebut nama mblauran.

Selain nama, ada persoalan histeris yang menarik pada kampung-kampung tersebut. Benih-benih nasionalisme Arek Surabaya juga bermula dari kompleks tersebut.

Pendatang luar kota saat ini lebih menyebut bertandang ke Bubutan Golden Junction daripada menyebut kewilayahan yang memiliki nilai historis kuat.

Pendirian pusat perbelanjaan tak terasa juga menenggelamkan perdagangan tradisional di kompleks Blauran. Padahal, sejak zaman Kolonial Belanda, lingkungan itu dikenal sebagai pusat perbelanjaan pribumi.

Menurut Achudiat, Blauran adalah daerah Keraton. Di sekitarnya tumbuh kampung-kampung yang dulu merupakan kampung para kerabat serta abdi kerajaan. Pusatnya terletak di alun-alun Contong. Kawasan sekitarnya seperti Bubutan, Kranggan, Blauran, dan Maspati adah daerah sekitar pusat pemerintahan.

Letak pasar ini berada tepat di depan BG Junction Surabaya, tepatnya di perempatan Jalan Kranggan Bubutan dan Blauran.

Pasar yang keberadaannya sejak jaman Belanda ini hingga kini masih eksis menjadi pasar barang eceran terlengkap di Kota Pahlawan.

Yang paling menonjol dari Pasar Blauran dan menjadikannya tak pernah sepi pengunjung adalah menjadi sentra penjualan berbagai keperluan sekolah. Seperti sepatu, tas alat tulis, seragam, dan buku dengan harga murah serta berkualitas bagus.

Berbagai macam buku bekas pun tersedia di sini adan menempati stan tersendiri. Buku-buku paket pun tersedia dari tingkat dasar, SLTA hingga perguruan tinggi.

Menjelajahi Pasar Blauran tak lengkap apabila tidak melihat seluruh isinya. Di tempat ini, terdapat 3 lantai. Untuk lantai pertama, terdiri dari toko-toko yang menjual buku-buku keperluan sekolah dan toko elektronik, arloji, dan jam dinding serta jajanan khas Jawa Timur.

Untuk masakannya, mulai dari lontong balap, rujak cingur, kikil, gado-gado, nasi rawon, dan masih banyak lagi yang tak kalah legendarisnya.

Lantai kedua, terdiri dari toko sepatu merk local dan juga perlengkapan sekolah. Serta lantai 3, terdiri dari toko yang menjual berbagai macam pakaian jadi dengan kualitas menengah. ***

Rabu, 02 September 2020

Sensasi Ibadah Salat Arbain di "Masjid Nabawi Blitar" Disaat Pandemi Covid-19

Sensasi Ibadah Salat Arbain di "Masjid Nabawi Blitar" Disaat Pandemi Covid-19

Masjid Ar Rahman
Masjid Ar Rahman Blitar (IG/@radiopatria)

Bagi warga +62 yang merindukan suasana “ibadah Arbain” di Masjid Nabawi sebagai bagian ritual sakral ibadah umroh dan sahnya umroh. Maka, beribadah di Masjid Ar Rahman yang berdiri di Kota Blitar bisa jadi sedikit dapat mengobati kerinduan bagi jamaah yang rindu melaksanakan ibadah umroh.

Pasalnya, sejak merebaknya pandemi virus corona yang mulai menyebar pada akhir tahun 2019 berdampak pada segala sektor. Termasuk ritual keagamaan, salah satunya adalah ibadah umroh.

Tak ayal, pihak otoritas +62 dalam hal ini Kamenterian Agama melakukan langkah penutupan sementara layanan pendaftaran umroh dalam aplikasi Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umroh dan Haji Khusus (Siskopatuh) sejak Kamis, 12 Maret 2020.

Hal ini dilakukan menyusul kebijakan pemerintah Arab Saudi yang menghentikan sementara ibadah umroh atau ziarah karena epidemi virus korona baru (Covid-19).

Akibatnya, banyak para jamaah khususnya warga +62 memendam kerinduan yang amat mendalam untuk menginjakkan kakinya serta melakoni ritual ibadah umroh di Tanah Suci Mekah dan Madinah.

Ibadah yang tak kalah menjadi perhatian para jamaah yakni mendambakan sukses melaksanakan ritual ibadah Arbain sebagai rangkaian ibadah umroh yakni kesempurnaan ibadah.

Lantas, apa itu Arbain? Arbain menurut Konsultan Ibadah Daerah Kerja Madinah KH. Muh. Afif Al Mubarok merilis okezone[dot]com, dijelaskan merupakan salah satu ibadah yang dilakukan jamaah haji di Kota Madinah al Munawaroh, yaitu salat fardhu berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 kali berturut-turut bersama imam masjid tanpa putus.

“Arbain bukanlah merupakan salah satu manasik haji, tapi jamaah hai pada umumnya mengharapkan betul bisa melaksanakan Arbain ini. Terutama terkait dengan keutamaan salat Arbain yang luar biasa,” jelasnya.

Ia mengutip salah satu hadist nabi yang berbunyi, “Barangsiapa yang salat di masjidku, 40 waktu salat tidak terputus satu kali pun maka ditulis baginya kebebasan dari neraka, selamat dari siksa dan dibebaskan dari kemunafikan”.

Keutamaan ibadah tersebut menjadikan jamaah +62 selalu rindu dan ingin kembali ke Madinah, khususnya ke Masjid Nabawi alMunawaroh demi melaksanakan ibadah tersebut. Akan tetapi, terbentur kebijakan pembatasan akibat pandemi corona yang hingga kini belum menghilang dari muka bumi ini.

Bagi warga +62, sedikit terobati kerinduan akan sensasi beribadah Arbain (bukan dalam arti ibadah yang sama dan di tempat yang sama). Sensasi ini tidak lain adalah merasakan suasana mirip beribadah di masjid yang sama. Akan tetapi hanya mirip namun memiliki riwayat yang berbeda.

Iya, dengan melaksanakan ibadah salat di Masjid Baid Ar Rahman yakni masjid yang kini sedang viral. Tak sedikit yang merasa sensasi seperti beribadah di Masjid Nabawi. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk, ibadah di masjid ini atmosfirnya serasa di Masjid Nabawi, Madinah.

Dikutip dari detik[dot]com, masjid ini dibangun di atas lahan seluas hampir 5.000 meter persegi. Masjid ini merupakan obsesi Abah Hariyanto seorang pengusaha ternama di Kota Blitar.

Dari pengalaman spiritual yang sangat mendalam ketika naik haji pertama kaki di Masjid Nabawi, membuatnya ingin setiap saat bisa merasakan berada di suasana khusyuk ketika beribadah.

Dikisahkan Ketua Takmi Masjid Ar Rahman H. Moch Fuad Saiful Anam bahwa keinginan abah membangun miniature Masjid Nabawi di Blitar ada sejak tahun 2018. Peletakan batu pertama pembangunan masjid di Jalan Ciliwung ini pada 24 Desember 2018. Dan selesai proses pembangunan pada 25 Desember 2019.

Tatkala Anda memasuki halaman masjid ini, kita akan disuguhi pemandangan indah. Sebanyak 10 tiang penyangga payung berdiri berjajar dengan megah. Bentuk payung ini sama seperti yang tampak di bagian luar Masjid Nabawi. Ornamen tembaga dengan warna emas melilit di bagian atas tiang yang dihiasi lampu indah dengan bentuk serupa di Madinah.

Ciri khas kontemporer klasik Utsmaniyah Mamluk langsung bisa dilihat dari bentuk pilar melengkung dengan motif hitam putih. Desain pilar seperti ini ada di semua bagian masjid.

Menjelajahi Masjid Nabawi Blitar ini tampak sebanyak 11 pintu masuk setinggi tiga meter dengan lebar dua meter terlihat megah menyambut datangnya para jamaah. Pintu kayu jati ini dilapisi tembaga ukir dengan motif kaligrafi yang cantik.

Sedangkan semua interior berbahan tembaga bercat emas. Semua motif dan kaligrafi yang tercetak di tembaga dibuat sama persis dengan interior di Masjid Nabawi.

Untuk mihrab atau tempat untuk imam, di desain seperti kita berhadapan langsung dengan Ka’bah. Desain dinding Ka’bah seperti itu, kaligrafi di sekitar Ka’bah juga sama. Dan kiswah yang dipasang di bagian pintu masuk Ka’bah merupakan kiswah asli yang pernah dipakai menutup Ka’bah tahun 2016.s

Bahkan, Abah Hariyanto mendatangkan langsung karpet sajadah untuk salat dari Turki. Pengharum ruangan pun diimpor dari Madinah bahkan sama persis. Pasalnya informasi tentang jenis dan dimana parfum dibeli ditanyakan langsung dari marbot Masjid Nabawi.

Anda pun dapat membayangkan bagaimana atmosfir Masjid Nabawi yang berusaha diciptakan di Masjid Ar Rahman. Masjid dengan kapasitas sekitar 1.000 jamaah ini masih makmur dikunjungi jamaah setiap hari hingga sekarang meski masa pandemi.

Jika sebelum Covid-19 mewabah, di masjid ini rutin menggelar kajian kitab kuning usai Salat Subuh dan Maghrib. Usai kajian, jamaah diajak makan bersama. Bahkan, takmir masjid selalu menyiapkan 1.000 porsi makanan tiap pagi dan petang.

Dan, tidak kalah pentingnya. Bagi jamaah yang ingin merasakan sensasi ibadah “Arbain” di Masjid Nabawi juga akan sedikit terobati dengan salat di masjid ini. Semoga, wabah Covid-19 segera berlalu dan ritual ibadah umroh pun dapat dibuka kembali sehingga warga +62 dapat melaksanakan ibadah Arbain yang sesungguhnya. Tentunya dengan pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab.

Untuk itu, bagi yang ingin merasakan sensasi beribadah di Masjid Nabawi, Anda pun dapat mengunjunginya. Tak sulit untuk menemukan Masjid Ar Rahman ini, terutama bagi pecinta kerajinan kayu. Pasalnya, lokasinya berdekatan dengan sentra kerajinan kayu Kota Blitar.***

Sabtu, 29 Agustus 2020

Terapi Rematik Alami Pemandian Selokambang di Lumajang

Terapi Rematik Alami Pemandian Selokambang di Lumajang

Selokambang
Suasana Selokambang Lumajang (IG)

Masa pandemi seperti sekarang, objek wisata alam menjadi pilihan yang tepat untuk menghilangkan rasa penat, jenuh bahkan mengusir kebosanan. Tidak hanya itu, selain mengusir penat juga dapat sebagai alternatif sebagai terapi.

Salah satunya yakni objek wisata Pemandian Selokambang di Lumajang. Wisata alam Selokambang merupakan salah satu destinasi wisata legenda yang dimiliki Lumajang, Jatim. Sebab, wisata tersebut konon berasal dari danau kecil yang terus melebar akibat batu apung yang mengambang di atasnya. Pemandian tersebut juga dipercaya bisa menyembuhkan sejumlah penyakit dengan cara terapi.

Meski hari biasa, pemandian alam ini tetap ramai pengunjung. Jernih dan alaminya air menjadi pemikat wisatawan untuk pergi ke sana. Bahkan, sebagian orang mempercayainya sebagai salah satu terapi kulit hingga linu-linu.

Menelusuri serta menuju ke lokasi pemandian tidak begitu sulit, sekitar 7 kilometer dari jantung kota. Butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk bisa sampai ke sana. Bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Tempatnya yang luas dan banyaknya destinasi wisata ini sangat cocok dijadikan tempat liburan keluarga.

Bagi masyarakat yang mencintai suasana alam, pemandian ini menjadi solusinya. Rimbunnya pepohonan sekitar kolam pemandian menyelimuti pandangan mata. Sangat nyaman digunakan sebagai tempat beristirahat dari penatnya bekerja. Bisa duduk-duduk di pelataran atas kolam, hingga di bibir kolam.

Belum lagi, adanya penghijauan taman di sekitar kolam hingga tersedianya kolam kecil khusus ikan koi. Termasuk ada penangkaran beberapa hewan. Kondidi itu menguatkan gambaran suasana berlibur ke tempat ekowisata.

Tampak beberapa orang terlihat selesai berenang dan mandi di kolang utama yang berada di sisi barat dan timur. Airnya pun jernih dan pastinya segar. Seakan mandi air dari sumbernya.

Dikutip dari tadatoday[dot]com, segar dan jernihnya air di Pemandian Selokambang dapat dimanfaatkan sebagai terapi rematik. “Kalau sudah berenang di sini linu-linu Saya hilang,” ungkap warga +62 yang sering mengalami linu-linu, dan menjadikan Pemandian Selokambang sebagai obat alternatif dirinya bersama-sama warga lainnya yang rutin terapi tiga kali seminggu.

Soal tempat yang alami, memang patut menjadi tujuan wisata alam pilihan. Udara di sekitar lokasi juga masih bersih. Pohon yang besar mengelilingi pemandian menjadi salah satu efek dari suasana yang tersaji. Masyarakat tidak hanya bisa menikmati segarnya air melainkan pula udaranya yang juga dapat digunakan sebagai terapi kesehatan agar hidup lebih sehat.

Keberadaan Pemandian Selokambang tak lepas dari legenda puluhan tahun silam. Seperti dikutip dari wisatalumajang[dot]com, bahwa tempat ini diberi nama Selokambang (Selo artinya batu, kambang artinya terapung).

Dikisahkan, pada puluhan tahun telah berlalu Mpu Toposono telah meninggal, para cantrik kembali ke rumah masing-masing, danau kecil tempat terapung itu semakin melebar, batu terapung itu lama-kelamaan habis terguyur oleh air hujan. Tinggallah danau yang sering dikunjungi penduduk digunakan untuk mandi.

Sebelumnya, kira-kira 700 tahun silam wilayah yang sekarang ini disebut Lumajang diperintah oleh Adipati Wiraraja sebagai hadiah dari Raja Majapahit kepada Arya Wiraraja yang telah banyak berjasa kepada Majapahit.

Kediaman Arya Wiraraja oleh benteng yang dipakai oleh prajurit Kadipaten berlatih keprajuritan dan saat ini daerah tersebut kita namakan Desa Biting (asal kata Biteng artinya benteng).

Setelah 35 hari Adipati Arya Wiraraja meninggal, daerah itu diserang oleh prajurit Majapahit yang saat itu masyarakat Biting tidak mengadakan perlawanan sama sekali, akhirnya mereka mengungsi keluar daerah yang mereka anggap aman di antara hutan-hutan kecil sekitar daerah tersebut.

Saat ini daerah hutan itu dinamakan Kabonarang, sedangkan daerah bendungan yang juga di sekitar hutan tersebut sekarang ini kita sebut Dawuhan Lor (Dawuhan artinya bendungan yang letaknya di sebelah utara desa itu). Diceritakan pula bahwa pada saat itu keluarga Mpu Nambi (putra Arya Wiraraja) juga terbunuh.

Tidak ketinggalan Demang Ploso pun ikut mengungsi. Demang Ploso adalah demang yang saat itu hidup dijaman tersebut, beliau mempunya Abdi Kinasih yang sangat setia. Dari abdi itulah legenda Selokambang ini ada.

Abdi Kinasih mencari Demang Ploso yang saat itu berpencar dalam pengungsian. Di rumah Demang Ploso sudah tidak berpenghuni maka Abdi Kinasih hanya bisa mengamankan barang-barang Demang Ploso yang sangat berharga.

Dengan memanggul barang tersebut Abdi Kinasih meninggalkan tempat tersebut dengan tujuan mencari dimana Demang Ploso dan keluarganya mengungsi. Semantara Abdi Kinasih belum bertemu dengan tuannya, dia ingin menitipkan barang yang dibawanya ke tempat yang ama yaitu tempat Mpu Teposono di Padepokan Teposono (Tepo artinya Topo, Sono artinya tempat; Teposono artinya tempat bertapa yang banyak ilmunya).

Mereka berunding untuk menyimpan barang dengan janji jika Abdi Kinasih sudah bertemu dengang Demang Ploso barang itu akan diambil kembali. Bersama Mpu Teposono, lima cantriknya dan Abdi Kinasih mencari tempat untuk menyimpan barang tersebut.

Di sekat pohon besar di sekitar danau kecil yang ada di daerah itulah mereka akan menyimpan barang tersebut yang berupa cepu-cepu yang isinya perhiasan berharga. Kebetulan di dekat pohon tersebut  ada sebongkah bati sebesar kerbau, di situlah mereka akan menyimpannya. Batu itu tidak bisa diangkat meskipun dengan cara apapun sehingga mereka menyerah dan mengadukan hal tersebut kepada Mpu Teposono.

Mpu Teposono segera memerintahkan supaya mereka menjauhkan diri dari batu besar itu. Sang Mpu masuk ke dalam biliknya mengambil Keris Aji Pameleng dan bersemedi meminta kepada Yang Maha Agug agar batu tersebut itu bisa terangkat.

Berdebar hati mereka menanti apa yang akan terjadi, tidak lama terdengarlah suara gemuruh dari dalam batu dan timbullah lubang kecil dari batu itu, berjuta-juta pasir tersembur dari lubang tersebut.

Mpu Teposono menghentikan semedinya dan keluar sambil membawa tongkat gemilingnya menghampiri batu yang sudah tidak menyemburkan pasir lagi diikuti para cantrik dan abdi kinasih yang masih berdebar-debar.

Tongkat gemiling Mpu Teposono dibuat untuk membuat batu besar itu ke tengah danau. Anehnya batu besar itu dengan ringannya meluncur ke tengah danau. Batu itu terapung-apung tertiup angin, sedangkan Abdi Kinasih dan beberapa cantrik menggali lubang bekas batu itu berada dan menyimpan cepu-cepu itu. Setelah itu abdi kinasih meneruskan perjalanan mencari tuannya ke daerah pengungsian.

Itulah kisah legenda asal muasal dari lokasi yang kini menjadi Pemandian Selokambang. Semoga, pemandian ini tetap terjaga keasliannya agar dapat dinikmati oleh anak cucu kita dan tentunya menjadi sarana terapi alami untuk meningkatkan kesehatan warga yang mengunjunginya. ***

 

Kamis, 27 Agustus 2020

Menelusuri Jejak Penghasil Kacang Termahal Macadamia di Indonesia

Menelusuri Jejak Penghasil Kacang Termahal Macadamia di Indonesia

Kacang macadamia
Kacang Macadamia (shopee)

Tahukah Anda, kacang termahal di dunia. Ternyata posisi itu dinobatkan kepada Kacang Macadamia. Padahal selama ini, tak jarang banyak warga +62 yang mengatakan bahwa kacang termahal adalah Kacang Almond.

Dikutip dari bobo[dot]grid[dot]id pada akhir tahun 2019 merilis bahwa Kacang Macadamia yang sudah melalui proses pengolahan tercatat satu kemasan berukuran satu pon (0,45 kilogram) harganya bisa mencapai Rp 350 ribu.

Dari pencarian informasi, dikutip dari mongabay[dot]co[dot]id bahwa kacang ini ditemukan pertama kali oleh botanis Jerman-Australia bernama Ferdinand von Mueller pada 1857. Nama Macadamia untuk menghormati guru medis ahli kimia bernama John Macadam.

Dari penemuan inilah, kacang ini makin digemari dan viral. Macadamia integrifolia dan Macadamia tetraphylla bisa dikonsumsi dan buah dimakan mentah. Selain itu, kacang ini pun dapat diolah sebagai bahan pembuat kue, campuran es krim hingga campuran coklat.

Kacang ini biasa berwarna hijau gelap dengan permukaan licin. Buah muncul dari salah satu ketiak daun pada ranting-ranting kecil. Ukuran dan bentuk buah mirip dengan duku dengan tempurung keras.

Dikarenakan rasanya yang nikmat, kacang ini juga sudah mulai dibudidayakan di Indonesia. Dikutip dari gonutify[dot]com, seorang insinyur peneliti, yakni Bapak Suyanto Kartoseowarno mengatakan bahwa pada tahun 1971, bibit kacang tersebut di bawa dari Hawaii ke Indonesia.

Bibit yang diketahui sebagai Kacang Termahal di Dunia ini akhirnya ditanam di Kebun Kopi Blawan, Bondowoso, Jatim sebanyak 105 pohon. Pertumbuhan tanaman tersebut di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut masih cukup bagus dan menghasilkan buah yang cukup lebat.

Sementara, di Sulawesi Macadamia dapat ditemukan di sekitar pesisir Kompleks Danau Malili-Danau Matano, Mahalona dan Towuti. Namun, tidak banyak informasi mengenai hildebrandii ini. Bahkan, penemuan di alam liar baru oleh tim peneliti melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Enrekang pada 2014.

Menelusuri keberadaan Macadamia di Sulawesi, menurut peneliti tak ubahnya mengurai benang sistem ekologi dan sejarah terbentuk pulau ini, yakni karena pecahan benua Gondwana yang sebagian besar di Benua Australia.

Kacang ini dikenal sebagai bahan utama makanan penutup karena rasanya yang seperti mentega. Harga kacang ini hampir dua kali lipat kacang lainnya, seperti Almond dan setiap tahun harganya meningkat.

Dari 10 spesies tumbuhan Macadamia, hanya ada dua spesies yang dapat menghasilkan kacang dengan harga selangit.

Proses sebuah pohon bisa menghasilkan kacang memakan waktu yang sangat lama, yaitu sekitar 7 sampai 10 tahun untuk mulai menumbuhkannya.

Di Australia bagian timur laut, kacang ini banyak dinikmati masyarakat Aborigin. Mereka menyebut pohon ini “Kindal Kindal”.

Awal mula kacang ini dibudidayakan untuk diperjualbelikan justru bukan di Australia, melainkan di Hawaii.

Tumbuhan ini memang butuh banyak air hujan, tanah yang subur, dan cuaca yang hangat, sesuai dengan iklim di Hawaii.


Selain di Australia dan Hawaii, tumbuhan ini juga dibudidayakan di Amerika Latin dan Afrika Selatan.

Keistimewaan kacang ini dikenal oleh pecinta kuliner karena memiliki kandungan lemak yang banyak, bahkan kandungannya lebih banyak dari kacang lainnya.

Kelebihan lainnya, lemak dalam kacang itu bebas kolesterol dan mengandung asam palmitoleic. Asam ini baik untuk metabolisme tubuh dan membantu mengendalikan kadar insulin. Kacang ini juga rendah gula sehingga sering dijadikan bahan makanan sehat.

Tidak hanya itu, biji kacang ini bisa menghasilkan minyak hingga sampai 80 persen. Nantinya, minyak tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan juga menjadi bahan alternatif untuk membuat pelembab kulit.

Dan masih banyak manfaat kesehatan lainnya yang tak kalah pentingnya, seperti dikutip dari gonutify[dot]com:

Penyakit Jantung

Centers for Disease Control anda Prevention (CDC) Amerika Serikat mengatakan bahwa penyakit jantung menyebabkan 1 dari setiap 4 kematian di negara tersebut. Ini adalah penyebab utama kematian bagi pria dan wanita. Studi menemukan bahwa makan Kacang Macadamia dapat menurunkan factor resiko penyakit jantung.

Sebagai contoh, sebuah penelitian pada tahun 2007 kepada seorang pria dengan kolesterol tinggi menemukan bahwa setelah 4 minggu mengonsumsi Kacang Macadamia, mereka memiliki faktor resiko lebih rendah untuk penyakit arteri coroner. Pada tahun 2015, sebuah tinjauan penelitian menemukan bahwa memakan kacang pohon apapun dapat menurunkan kolesterol total, lipoprotein densitas rendah, atau kolesterol jahat dan trigliserida.

Mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda seperti yang ada di dalam kacang dapat meningkatkan kadar lipoprotein densitas tinggi (HDL), atau kolesterol baik, menurut beberapa penelitian. Studi jangka panjang lainnya pada orang-orang di Swedia juga menemukan bahwa mengonsumsi kacang-kacangan dapat dikaitkan dengan resiko rendah atrial fibrilasi  dan gagal jantung.

Resiko Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah sebuah kondisi yang dapat meningkatkan resiko diabetes, stroke, dan penyakit jantung. Sindrom ini termasuk seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kadar kolesterol HDL yang rendah, trigliselida tinggi, dan lemak perut yang berlebihan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MUFA, seperti yang terdapat dalam Kacang Macadamia dapat membantu menurunkan resiko sindrom metabolik atau setidaknya mengurangi efeknya pada orang yang sudah terkena sindrom tersebut.

Mencegah Kanker

Kandungan jenis vitamin E sejumlah besar yang disebut tocotrienols. Tocotrienols  memang memiliki kemampuan anti kanker yang kuat, menurut beberapa penelitian. Kacang ini juga mengandung senyawa flavonoid, yang dapat melawan kanker dengan menghancurkan radikal bebas yang merusak di dalam tubuh.

Melindungi Otak

Tocotrienols dalam kacang ini juga memiliki efek untuk melindungi otak. Satu studi menemukan bahwa suplemen yang kaya tocotrienols dapat membantu melindungi sel-sel otak dari efek glutamat, yang mungkin memainkan peran dalam pengembangan penyakit Alzheimer dan Parkinson.

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa asam oleat, salah satu lemak tak jenuh tunggal utama yang terdapat dalam Kacang Macadamia, dapat melindungi otak dari jenis stres oksidatif tertentu.

Mencegah Penambaha Berat Badan

Kacang Macadamia dan minyaknya adalah beberapa sumber asam palmitoleat terkaya, lemak tak jenuh tunggal yang juga disebut omega-7. Para peneliti dalam satu studi memberi asam palmitoleat pada domba selama 28 hari, dan hasilnya menunjukkan pengurangan kenaikan berat badan sebesar 77 persen. Studi lain menunjukkan bahwa memberi makan minyak Kacang Macadamia kepada seekor tikus sebagai suplemen, hasilnya mengurangi ukuran sel lemak mereka setelah 12 minggu. ***

 

 

Rabu, 26 Agustus 2020

Pasar Turi Surabaya Jadi Saksi Sejarah Raden Wijaya Dikejar Pasukan Jayakatwang

Pasar Turi Surabaya Jadi Saksi Sejarah Raden Wijaya Dikejar Pasukan Jayakatwang

Pasar turi
Deretan toko di Pasar Turi Surabaya (Phinemo[dot]com)

Menjelajahi Kota Surabaya, tak lengkap rasanya apabila tidak mampir di sudut perekonomian Kota Pahlawan ini. Iya, tempat itu salah satunya yakni Pasar Turi. Pasar ini adalah pusat perbelanjaan di Surabaya yang lokasinya tak jauh dari monumen perjuangan Arek-arek Surabaya di masa perjuangan merebut kemerdekaan dimasa silam, yaitu Tugu Pahlawan.

Dulunya, Pasar Turi merupakan dermaga kecil yang pernah dipergunakan oleh Raja Majapahit pertama, Raden Wijaya untuk menyeberang ke Pulau Madura dari kejaran pasukan Jayakatwang.

Dikisahkan oleh sejarawan Surabaya, Suparto Broto, Pasar Turi yang sekarang menjadi pusat penjualan grosir aneka jenis barang kebutuhan rumah tangga serta lainnya.

Beliau menceritakan bahwa pasar ini merupakan suatu dermaga kecil atau tempat pangkalan perahu-perahu yang berlabuh ke Pulau Madura atau sebaliknya. Tetapi sekarang, bekas-bekas dermaga itu sudah tidak ada, tergerus oleh bangunan beton untuk kios para pedagang.

Lokasinya, Pasar Turi memang tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak, tempat penyeberangan ke Pulau Madura. Oleh sebab itu, data sejarah yang dipaparkan sejarawan satu ini, adalah benar adanya.

Dikisahkannya, dulu Raja Pertama Kerajaan Majapahit yang berpusat di wilayah kawasan hutan Tarik Mojokerto, pernah dikejar-kejar oleh pasukan Jayakatwang. Dan sampai akhirnya Raden Wijaya sampai di Desa Kudadu.

Kedatangannya di desa itu, disambut dengan ramah oleh warga dan kepala desa setempat. Raden Wijaya diperlakukan dengan sangat baik.

Sadar keberadaan Raden Wijaya terancam akibat terus diburu oleh Pasukan Jayakatwang. Oleh penduduk Kedadu, Raden Wijaya dibawa ke pangkalan perahu Pejingan. Dari pangkalan itulah melewati Kali Krembangan, Raden Wijaya berlayar menyeberangi laut menuju ke Pulau Madura. Dan peristiwa itu terjadi pada tahun 1292.

Jelasnya, pangkalan perahu terus berubah namanya menjadi Padatar. Lambat laun berubah lagi menjadi Padatari. Seiring perjalanan waktu pangkalan perahu itu kemudian berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang untuk mempertukarkan barang-barang layaknya seperti pasar, maka namanya berubah lagi dari Padatari menjadi Pasar Turi sampai sekarang.

Keberadaan Pasar Turi diresmikan oleh Wali Kotamadya Surabaya R. Soekotjo pada tanggal 21 Juni 1971. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2 Mei 1978, hampir semua bangunan pasar ludes terbakar. Imbasnya Kali Krembangan pun berangsur-angsur hilang dari wajah Kota Surabaya, demikian halnya dengan pangkalan perahu Padatari yang terlanjur berubah menjadi pasar, melanjutkan tradisi sejarah sebagai pusat kegiatan orang berjualbeli.

Tetapi setelah pemerintahan Jepang membangun rel kereta api OJS Madura Ujung – Sepanjang, para pedagang tak lagi lewat jalur sungai, berpindah menggunakan kendaraan kereta api OJS.

Masih menurut sejarawan ini, pada masa Jepang banyak toko tutup karena barang dagangan tidak ada. Banyak orang kaya yang tinggal di daerah Darmo kehilangan pekerjaannya, terpaksa dia menjual barang-barangnya pada tukang loak. Tukang loak saat itu berjualan hampir di seluruh pelosok kota.

Setelah memperoleh barang dagangan yang kebanyakan piranti rumah tangga lalu membawanya ke Pasar Turi dengan naik trem listrik yang melintas di tengah kota, dan kereta api OJS yang lewat Pasar Turi. Akhirnya orang kaya baru yang menginginkan barang berkualitas tidak susah-susah harus membeli di toko, tetapi cukup datang ke Pasar Turi.  Maka, sejak zaman Jepang (1942-1945) terkenallah Pasar Turi sebagai pasar barang rombeng alias pasar loak.

Sejak Indonesia merdeka, Pasar Turi sudah tercatat sebanyak setidaknya 6 kali terbakar. Termasuk kebakaran akibat terkena mortar Pasukan Inggris Mansergh saat terjadi pertempuran antara Inggris-Gurkha kemudian NICA.

Pada pendudukan Belanda (1945-149), Pasar Turi termasuk salah satu pasar yang mendapat perbaikan karena paling parah rusak akibat Pertempuran 10 November 1945. ***